Cetak Santri Melek Ekonomi, STIE Malangkuçeçwara Teken Kerjasama dengan MA Wathoniyah Islamiyah Kebumen

Penandatanganan kerjasama antara STIE Malangkuçeçwara Teken Kerjasama dengan MA Wathoniyah Islamiyah Kebumen (Foto: Dani Alifian)
Stereotip bahwa lulusan madrasah hanya berfokus pada kajian agama perlahan terkikis. Melalui pembaruan kerja sama (MoU) strategis, STIE Malangkuçeçwara (ABM) Malang resmi memperkuat jejaringnya dengan MA Wathoniyah Islamiyah untuk mencetak generasi santri yang melek ekonomi dan berdaya saing internasional.
Penandatanganan kerja sama ini menjadi momentum penting bagi kedua institusi untuk menyelaraskan kurikulum berbasis sertifikasi. Selain itu kerjasama ini membuka pintu seluas-luasnya bagi santri untuk mencicipi atmosfer pendidikan global.
Hubungan erat ini bukan tanpa alasan. Kepala MA Wathoniyah Islamiyah, Taufik, mengungkapkan bahwa kepercayaan mereka terhadap STIE Malangkuçeçwara berakar dari keberhasilan alumni mereka, Susanti, yang kuliah di ABM pada 2019 lalu.
“Alhamdulillah, santri kami terbukti mampu bersaing. Mbak Susanti dulu orangnya tekun dan sederhana, hingga akhirnya berhasil menjadi wisudawan terbaik. Sejak saat itu, setiap tahun kami rutin mengirimkan santri-santri terbaik kami untuk menempuh studi di sini,” ujar Taufik.
Menurutnya, reputasi ABM sebagai salah satu sekolah tinggi ekonomi terbaik di Indonesia menjadi daya tarik utama, terutama bagi santri pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang ingin mengubah nasib melalui pendidikan berkualitas.
Salah satu poin krusial dalam kerja sama ini adalah akses bagi santri untuk mengikuti program internasional yang menjadi unggulan ABM, seperti Sakura Program di Jepang hingga Student Exchange ke Malaysia dan Thailand.
Ketua STIE Malangkuçeçwara, Drs. Bunyamin, M.M., Ph.D., memberikan apresiasi tinggi terhadap kualitas input dari sekolah keagamaan. Ia menilai santri memiliki kedisiplinan dan etika yang kuat, yang jika dipadukan dengan skill profesional, akan menghasilkan lulusan yang luar biasa.
“Kami ingin meng-energize para santri ini. Mereka tidak hanya belajar teori di kelas, tapi juga kita bekali dengan sertifikasi profesi seperti Accurate hingga Cortex melalui laboratorium yang kita miliki. Kami ingin membuktikan bahwa sekolah Islam bisa mencapai level global,” tegas Bunyamin.
Bunyamin menekankan bahwa kolaborasi dengan MA Wathoniyah Islamiyah didesain sebagai aktivitas nyata, bukan sekadar dokumen di atas kertas (sleeping MoU). Beberapa rencana aksi yang disiapkan antara lain dosen ABM akan terjun langsung memberikan pengayaan di madrasah.
Ada juga program penyelarasan kompetensi akuntansi dan manajemen bagi siswa MA. Selain itu, terbuka juga peluang magang bagi alumni madrasah di jaringan internasional ABM.
“Harapan kami, santri tidak lagi hanya jago di dalam negeri. Melalui kerja sama ini, pintu menuju Jepang, Malaysia, atau Thailand terbuka lebar dengan biaya yang sangat terjangkau, bahkan gratis untuk program tertentu,” pungkas Bunyamin. [dan/aje]
SUMBER: beritajatim.com





You must be logged in to post a comment.