STIE Malangkucecwara Ingatkan Calon Wisudawan: Rekrutmen Kerja Kini Berbasis Psikologis, AI Bukan Solusi Instan

Wisuda seringkali dianggap sebagai puncak pencapaian akademik, namun Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkucecwara (ABM) menegaskan bahwa momen tersebut hanyalah gerbang awal menuju arena kompetisi yang sesungguhnya.
Merespons tantangan dunia kerja yang kian dinamis, kampus yang dikenal dengan sebutan ABM ini menggelar pembekalan eksklusif bagi calon wisudawan periode April 2026. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (21/1/2026) ini mengangkat tema krusial, “Bukan Sekedar Tes: Cara Rekrutmen Menilai Kandidat”.
Fokus utama acara ini adalah membuka wawasan mahasiswa bahwa proses rekrutmen modern tidak lagi sekadar melihat deretan nilai di ijazah, melainkan membedah aspek psikologis dan karakter pelamar secara mendalam.
Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan STIE Malangkucecwara, Dr. Drs. Kadarusman, Ak., M.M., CA., menekankan pentingnya kesiapan mental lulusan dalam menghadapi realitas industri. Menurutnya, ijazah hanyalah syarat administratif, namun kepribadian adalah kunci keberhasilan.
“Kami tidak ingin lulusan STIE Malangkucecwara hanya siap lulus, tetapi tidak siap bersaing. Dunia kerja sekarang menilai cara berpikir, cara bersikap, dan cara menghadapi tekanan. Itu yang kami siapkan melalui pembekalan ini,” tegas Kadarusman.
Ia menambahkan bahwa perusahaan masa kini menggunakan metode asesmen yang kompleks untuk membaca potensi kandidat. Proses ini mencakup wawancara mendalam, tes psikologi, hingga penilaian kejujuran diri yang menuntut pribadi yang utuh dan tangguh.
Guna memberikan gambaran nyata, pembekalan ini menggandeng mitra Pusat Karier STIE Malangkucecwara, Vernon Edu. Materi dibawakan langsung oleh Veronika Olivia S, M.Psi, seorang psikolog dan praktisi HRD berpengalaman yang telah belasan tahun menangani seleksi karyawan di berbagai korporasi.
Koordinator Career Development Center (CDC) STIE Malangkucecwara, Rina Irawati S.E., M.M., menjelaskan bahwa kegiatan ini diikuti oleh sekitar 30 calon wisudawan secara luring, serta peserta daring melalui hybrid meeting, termasuk mahasiswa kelas karyawan dan peserta program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
“Kami sudah membekali mahasiswa dari sisi pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Namun saat masuk dunia kerja, mereka harus tahu bagaimana memanfaatkan semua itu dalam proses seleksi yang kompetitif,” ujar Rina.
Rina juga mengingatkan agar mahasiswa tidak terlena dengan zona nyaman akibat kemudahan teknologi. Tantangan teknologi, kemudahan teknologi tidak otomatis membuat seseorang unggul.
Kedua, penggunaan cerdas, mahasiswa dituntut menggunakan teknologi secara bertanggung jawab untuk meningkatkan kapasitas diri, bukan untuk mencari jalan pintas. Dalam sesi tersebut, isu mengenai kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan karakter generasi muda di dunia kerja menjadi sorotan tajam.
Dr. Kadarusman mengingatkan bahwa meskipun AI semakin canggih, teknologi tersebut tidak boleh dijadikan sandaran utama dalam penyelesaian masalah. “AI itu bukan solusi, tapi harus menjadi asisten, dan itu tanggung jawab kami untuk mengarahkan,” ujarnya mengingatkan.
Lebih jauh, Kadarusman menyoroti fenomena anak muda (Gen Z) yang cenderung mudah mengajukan pengunduran diri (resign) hanya karena hal-hal sepele atau ketidaksesuaian ekspektasi. Ia menegaskan bahwa tidak ada perusahaan yang sempurna, namun setiap perusahaan pasti menawarkan ruang untuk bertumbuh.
“Saya tekankan ke mahasiswa, justru perusahaan itu memberikan kesempatan buat berkembang. Kesesuaian skill dengan kebutuhan perusahaan harus dibarengi dengan dedikasi yang baik,” imbuhnya.
Langkah strategis STIE Malangkucecwara dalam membekali mahasiswanya terbukti efektif. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 60 persen lulusan kampus ini berhasil mendapatkan pekerjaan dalam kurun waktu tiga bulan pasca kelulusan. [dan/aje]
SUMBER: beritajatim.com





You must be logged in to post a comment.