Dampingi UMKM Gunungrejo Olah Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai

Persoalan manajemen keuangan usaha dan penumpukan limbah rumah tangga masih menjadi kendala utama dalam pengembangan ekonomi desa. Merespons kondisi tersebut, Tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIE Malangkuçeçwara (ABM) melakukan pendampingan intensif kepada pelaku usaha mikro di Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, pada akhir Desember 2025.
Pendampingan ini menyasar langsung akar persoalan ekonomi warga dengan menghadirkan solusi praktis, mulai dari pembenahan akuntansi usaha hingga inovasi produk berbasis daur ulang limbah plastik. Alih-alih bersifat seremonial, tim akademisi STIE Malangkuçeçwara membawa misi transfer ilmu yang aplikatif dan berkelanjutan.
Sebanyak 30 anggota PKK Desa Gunungrejo yang mayoritas merupakan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dibekali keterampilan mengolah limbah plastik rumah tangga menjadi produk bernilai jual. Limbah yang selama ini hanya dibuang, seperti tutup botol plastik berwarna-warni, disulap menjadi aksesori kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
Ketua LPPM STIE Malangkuçeçwara, Dra. Siti Munfaqiroh, MSi, menjelaskan bahwa pendekatan pendampingan tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya fokus pada produksi dasar seperti batik dan ecoprint, kini materi yang diberikan lebih strategis dan relevan dengan isu lingkungan.
“Hari ini fokusnya lebih strategis. Salah satunya adalah bagaimana limbah plastik, khususnya tutup botol berwarna-warni yang biasanya dibuang, bisa disulap menjadi aksesori cantik dan bernilai ekonomi tinggi,” ujar Siti kepada beritajatim.com, Senin (29/12/2025).
Pelatihan pengolahan limbah tersebut dipandu langsung oleh mahasiswa kreatif STIE Malangkuçeçwara, Rahmat Ardiansyah, yang mendampingi peserta mulai dari proses desain hingga finishing produk.
Selain inovasi produk, aspek fundamental dalam bisnis yakni pengelolaan keuangan juga menjadi perhatian utama. Anggota Tim Pengabdian LPPM, Rina Irawati, SE, MM, mengungkapkan masih banyak pelaku UMKM desa yang belum memahami penghitungan Harga Pokok Produksi (HPP), sehingga sering menetapkan harga jual tanpa perhitungan yang matang.
“Kami memberikan pelatihan akuntansi sederhana yang disampaikan Dr. Aminul Amin. Materi ini tidak sekadar teori, tapi peserta diajak langsung memahami penghitungan HPP. Ini aspek krusial yang menentukan harga jual masuk akal dan keuntungan nyata bagi warga,” tegas Rina.
Ia berharap pendampingan akademik tersebut mampu melahirkan produk unggulan dari Desa Gunungrejo yang tidak hanya kreatif dan ramah lingkungan, tetapi juga dikelola dengan manajemen bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
Respons positif datang dari Ketua TP PKK Desa Gunungrejo, Muhtamilatur Rohmah. Ia menyebut kolaborasi dengan STIE Malangkuçeçwara yang telah menjadi agenda rutin tahunan sangat berperan dalam mendorong perkembangan usaha warga.
Menurut Muhtamilatur, Desa Gunungrejo memiliki potensi ekonomi yang beragam, mulai dari pengrajin shuttlecock, usaha kuliner, hingga berbagai industri rumahan. Namun potensi tersebut membutuhkan sentuhan manajemen modern agar mampu berkembang.
“Materi akuntansi, termasuk penghitungan HPP, sangat penting karena itu akan menunjang penjualan usaha kami. Selain itu, kami berharap ibu-ibu semakin kreatif memanfaatkan sampah rumah tangga menjadi barang berguna,” ungkapnya.
Ke depan, STIE Malangkuçeçwara menargetkan pendampingan pada sektor hilir, khususnya pemasaran produk UMKM Desa Gunungrejo agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Kalau pelatihan sudah banyak, pekerjaan rumah selanjutnya adalah fokus bagaimana produk-produk Gunungrejo ini bisa benar-benar terjual dan bersaing di pasar yang lebih luas,” pungkas Siti Munfaqiroh. [dan/beq]
SUMBER: beritajatim.com





You must be logged in to post a comment.