Dorong Peningkatan Omzet Pedagang Siomay ABM

MALANG – Widanarni Pudjiastuti dan Evi Maria, dua dosen STIE Malangkucecwara Malang melakukan pembinaan kepada penjual siomay yang ada di sekitar kampus. Suparwan dan Sudarsono, adalah dua penjual siomay yang kini dibantu oleh dua dosen tersebut dalam program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) dan didanai Kemenristek Dikti.

Sudah sejak Maret lalu, Widanarni dan Evi melakukan observasi dan wawancara kepada dua pedagang siomay tersebut. Siomay ABM memang bukan kuliner baru, bahkan namanya sudah banyak dikenal di Malang.

Setiap hari antrean pembeli terlihat mengular, baik yang membeli di Siomay ABM Bang Iwan dan Siomay ABM Bang Nino. Meski siomay dijual di pinggir jalan, tak mengurangi minat pembelinya. Tapi tak banyak yang tahu, kalau kedua penjual tersebut kesulitan mengembangkan usahanya. Keterbatasan modal dan keterampilan membuat mereka belum bisa meningkatkan pendapatannya.

“Sebenarnya pedagang siomay ini telah memiliki banyak pelanggan, permintaan terus bertambah, omzet juga meningkat. Namun karena keterbatasan produksi dan tempat, usaha mereka kurang dapat berkembang,” kata Evi Maria kepada Malang Post.

Dari hasil observasi yang dilakukan tim ini, diketahui bahwa mereka kesulitan dari sisi aspek produksi yaitu ketersediaannya bahan baku. Selain itu, tenaga kerja yang ada juga terbatas dan yang paling penting mereka belum paham bagaimana mengolah dan melakukan pencatatan keuangan.

Berkat kejelian dan kepedulian tim dosen STIE Malangkucecwara ini, harapan besar tumbuh pada dua pedagang kecil tersebut. Tak hanya melakukan observasi, tim ini juga telah memetakan kebutuhan pedagang siomay untuk memperluas usahanya.

Untuk aspek produksi, dibelikan sebuah freezer untuk menyimpan bahan baku utama terutama ikan. Karena, ketersediaan bahan baku yang tergantung musim menjadi hambatan. Dengan adanya freezer tersebut maka bahan baku bisa terus tersedia. Alat lainnya yang disupport adalah penggilingan dan pencampuran bahan baku. Dengan alat tersebut maka proses produksi bisa dilakukan lebih cepat, hemat waktu.

“Karena produksi sudah bisa ditingkatkan, kini pedagang siomay tak lagi menolak order yang datang. Yang paling penting lagi, mereka sudah bisa menambah tenaga kerja untuk membantu proses produksi dan membuka daerah pemasaran yang baru,” urainya. Karena peningkatan kapasitas produksi itulah, pedagang siomay ini sudah berani menerima pesanan catering hingga di luar Malang.

Kegiatan lainnya yang dilakukan tim dosen ini adalag memberikan pelatihan tata letak proses produksi dan daerah pemasaran baru. Pelatihan tentang kewirausahaan dan manajemen pemasaran. Pelatihan keuangan sederhana juga diberikan agar kedua mitra bisa melakukan pencatatan keuangan dengan benar sehingga dapat mengetahui keuntungan yang diperoleh.

“Diharapkan dengan adanya program IbM ini, kedua mitra dapat meningkatkan omzet penjualan. Sehingga bisa makin berkembang, menciptakan lapangan kerja baru dan bersaing dengan usaha sejenis,” pungkasnya. (oci/adv)

sumber: Malang Post, 2 November 2017