Tiga Minggu di ABM, Mahasiswa Jepang Pandai Menari Tradisional

MALANG 15 Maret, Mengenakan kebaya dan kain batik, sejumlah mahasiswa Jepang tampil memukau dalam acara penutupan Program BUNGA di Kampus STIE Malangkucecwara Malang (ABM, Red), kemarin. Mahasiswa asing tersebut terlihat luwes ketika menampilkan tari tradisional. Tak hanya itu, sejumlah karya seni batik juga ikut dipamerkan dalam kesempatan tersebut.

Bertajuk “Gelar Kinerja Program Bunga 2017”, acara ini merupakan wahana apresiasi terhadap percepatan dan pembelajaran 22 mahasiswa dari Universitas Kajian International Kanda, Jepang setelah mengikuti program intensif selama 3 minggu efektif di Malang.

Bertempat di Padepokan Seni Balekambang, acara dibuka dengan penampilan Tari Remo Lancuran yang ditampilkan oleh Hayyu Binar. Dalam acara ini, semua pembelajar menampilkan perolehan dan pengalaman belajarnya selama mengikuti program, baik dalam kompetensi kebahasa indonesiaan maupun keterampilan berseni-budaya Indonesia.

Kepada Malang Post, Shiotsuki ‘Niken’ Yukino dan Ogawa ‘Ratu’ Mana menyampaikan kesan-kesannya selama berada di Malang. Mereka berdua mengaku sangat senang tinggal di sini meskipun harus beradaptasi dengan makanan dan cuaca yang sangat berbeda dengan Jepang.

“Saya sering sakit perut karena makanan Indonesia yang pedas,” ujar Niken.

Tak ingin segera berpisah, besok mereka akan bertolak ke Bali untuk berlibur sebelum benar-benar pulang ke Jepang. Meskipun terlihat gembira, namun tak sedikit pebelajar yang harus menitikkan air mata saat menyampaikan kesannya selama tinggal di Indonesia, salah satunya Imazeki Kurnia Nozomi. Sebagai perwakilan kelas ‘Kenanga’, dia tidak sanggup menahan tangis di panggung. Tak hanya itu, beberapa keluarga asuh juga juga terlihat bersedih atas usainya program belajar ke-22 pebelajar tersebut.

Sebelum acara ditutup, dibacakan tiga mahasiswa terbaik sesuai dengan standar kompetensi kesungguhan, ditandai dengan kemajuan belajar, kebahasaan, dan toleransi, meliputi kepekaan sosial, perhatian dan sikap saling menghargai sesuai dengan ‘adiluhung’ dalam kehidupan sosio-budaya masyarakat, khususnya di selingkung Malang Raya.

Pendamping Program ISP MCE Prof. Suyoto menyampaikan apresiasinya terhadap semua pebelajar karena telah menunjukkan hasil yang mengagumkan. Selain berhasil belajar berbahasa, mereka juga menjiwai tata santun dan tata karma seperti yang umum dilakukan oleh masyarakat Malang, khususnya.

“Selanjutnya saya berpesan kepada mereka agar apapun yang telah di dapat di Malang, dapat dijadikan bekal yang positif dan tidak boleh merasa cepat puas. Saya akan mengajak mereka mengunjungi tempat-tempat lain di Indonesia, karena Indonesia bukan hanya Malang saja,” tuturnya.
Widodo Hs, selaku Penanggung Jawab Program ISP dalam sambutannya menyatakan kebanggaan dan rasa terima terima kasih atas dukungan serta kerja sama berbagai pihak selama program berlangsung.

Program intensif angkatan ke-18 ini dinilai mampu membuahkan pengalaman belajar yang membanggakan bagi seluruh mahasiswa. Dengan metode pembelajaran yang mereka terapkan, yaitu ‘Celup Total’, dinilai efektif meningkatkan motivasi dan pencapaian prestasi siswa. Lonjakan peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia ditunjukan dengan penyampaian kesan dari tiap perwakilan kelas terhadap aktivitas belajar, pre tutor dan keluarga homestay selama tinggal di Malang. Tak hanya itu, mereka juga dinilai telah memahami unsur sosial budaya, termasuk penguasaan seni-budaya tradisonal Indonesia dan ditampilkan di hadapan para tamu Rabu kemarin.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Malang Drs. Totok Kasianto sebagai wakil  Dinas Pendidikan menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan program ini. Hal ini dikarenakan sebagai civitas pendidikan, ISP MCE telah ikut serta dalam program Penguatan Pendidikan Karakter yang mencakup nilai-nilai kearifan dan budaya lokal. Selanjutnya Totok berharap agenda ini terus dipertahankan dan berkelanjutan serta dapat menyasar pebelajar dari semua jenjang usia. (mg19/oci)

Sumber: Malang Post 15 Maret 2017 | PDF

You may also like...